Paradoks Fiskal di Balik Keberhasilan Pendidikan
Para ekonom menyebut fenomena ini sebagai Keajaiban Asia Timur. Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan berhasil bertransformasi dari negara miskin menjadi negara maju dalam waktu kurang dari dua generasi. Bank Dunia merangkum kisah itu dalam laporan klasiknya, The East Asian Miracle (1993), yang menonjolkan disiplin makroekonomi, orientasi ekspor, dan investasi besar pada sumber daya manusia.
Ada satu hal yang luput dari sorotan laporan itu, yaitu paradoks pendanaannya. Rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) di kawasan tersebut bertahan jauh di bawah negara-negara Nordik, sebagaimana terlihat dalam statistik penerimaan negara yang dihimpun OECD. Belanja perlindungan sosialnya pun terbilang tipis.
Teori pertumbuhan ekonomi konvensional biasanya menghubungkan pencapaian pendidikan dengan kemampuan fiskal negara. Logikanya berjalan lurus: negara kuat memungut pajak besar, pajak digunakan untuk membiayai sekolah, sekolah menghasilkan tenaga kerja terdidik, dan tenaga kerja terdidik menggerakkan pertumbuhan. Asia Timur memutus rantai logika itu di bagian tengah. Capaian pendidikan mereka, seperti terukur dalam Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan OECD, termasuk yang tertinggi di dunia, sementara anggaran publik untuk pendidikan tidak pernah membengkak secara proporsional.
Kesenjangan dalam Penjelasan yang Ada
Selama ini literatur pembangunan menawarkan beberapa jawaban konvensional. Kawasan ini memilih orientasi ekspor sejak awal, pemerintah menjaga disiplin makroekonomi, birokrasi direkrut melalui ujian berbasis merit, dan reformasi agraria di Korea Selatan serta Taiwan memangkas ketimpangan lahan sebelum industrialisasi dimulai. Bank Dunia sendiri menempatkan sebagian besar penjelasan ini di jantung laporannya pada 1993.
Semua penjelasan itu masuk akal dengan bukti pendukung yang kuat. Akan tetapi, penjelasan-penjelasan tersebut pada dasarnya menjawab pertanyaan yang berbeda, yaitu mengapa negara menggunakan sumber dayanya secara efektif. Penjelasan itu tidak menerangkan dari mana asal muasal biaya pendidikan yang begitu besar, padahal kas negara jelas-jelas tidak menanggungnya sendirian.
Sumber Pendanaan yang Terlupakan: Dompet Rumah Tangga
Rumah tangga, bukan pemerintah, menjadi penanggung jawab utama pembiayaan pendidikan di Asia Timur. Orang tua di kawasan ini memindahkan sebagian besar pendapatan mereka ke dalam pendidikan anak. Mereka tidak hanya mengandalkan sekolah negeri, tetapi juga menyewa guru privat dan mengirim anak ke lembaga bimbingan belajar di luar jam sekolah—yang dalam literatur akademik disebut sebagai shadow education atau pendidikan bayangan.
Istilah itu diperkenalkan Mark Bray lewat studi UNESCO IIEP, The Shadow Education System (1999). Bray mencatat bahwa bimbingan belajar tumbuh subur justru di sistem pendidikan dengan anggaran publik yang terbatas dan persaingan ujian yang ketat. Bersama Chad Lykins, ia kemudian menyusun laporan untuk Asian Development Bank, Shadow Education (2012), yang memetakan besaran biaya bimbingan belajar di seluruh Asia dan dampaknya terhadap ketimpangan.
Jepang memiliki juku, Korea Selatan memiliki hagwon, dan Taiwan memiliki jaringan bimbingan belajar yang sama padatnya. Di Korea Selatan, belanja rumah tangga untuk pendidikan privat telah menjadi isu politik tersendiri selama beberapa dekade. Sunwoong Kim dan Ju-Ho Lee dalam Economic Development and Cultural Change (2010) menunjukkan bahwa permintaan atas les privat di Korea tumbuh sebagai respons rasional keluarga terhadap seleksi perguruan tinggi, bukan sekadar sebagai gejala budaya.
Angkanya sudah lama berhenti menjadi persoalan kecil. Badan Statistik Korea melaporkan bahwa belanja bimbingan belajar siswa SD hingga SMA mencapai 27,1 triliun won atau sekitar 20,6 miliar dolar AS pada 2023, dengan tingkat partisipasi siswa sebesar 78,5 persen. Rekor itu tercipta ketika jumlah siswa Korea justru sedang menyusut.
Bagaimana keluarga membiayai semua ini? Mereka melakukannya dengan menekan konsumsi pribadi secara drastis. Kakek dan nenek turut menyumbang, dan keluarga besar kerap mengumpulkan dana untuk satu anak yang dianggap paling menjanjikan. Perhitungan ekonomi makro ini tidak pernah muncul dalam dokumen anggaran negara. Dalam statistik resmi, aliran uang tersebut tercatat sebagai konsumsi rumah tangga, bukan sebagai investasi modal manusia.
Akibatnya, kita selama ini mengukur pembangunan pendidikan Asia Timur dengan alat ukur yang keliru. Kita melihat anggaran kementerian yang ramping dan menyimpulkan bahwa negara itu kurang berinvestasi. Padahal, kita melewatkan aliran dana yang jauh lebih besar karena aliran itu bergerak secara diam-diam di dalam keluarga.
Mengapa Keluarga Asia Timur Bersedia Berkorban?
Pertanyaan yang lebih mendasar dan menarik adalah mengapa sebagian masyarakat bersedia berkorban sebesar itu, sementara masyarakat lain tidak.
Jawabannya menyentuh variabel yang jarang dimasukkan ke dalam model ekonomi standar, yaitu ikatan keluarga dan nilai budaya. Antropolog Clark W. Sorensen, dalam Comparative Education Review (1994), menggambarkan bagaimana keberhasilan anak di Korea dibaca sebagai keberhasilan seluruh keluarga, sehingga biaya sekolah diperlakukan sebagai kewajiban kolektif. Sejarawan Michael J. Seth menyebut gejala serupa sebagai education fever dalam bukunya pada 2002, dan ia menelusuri akarnya jauh sebelum Korea menjadi negara kaya.
Orang tua di Asia Timur tidak memperlakukan masa depan anak sebagai urusan orang lain atau urusan negara semata. Mereka memperlakukannya sebagai bagian tak terpisahkan dari kesejahteraan mereka sendiri. Semakin kuat perasaan kebersamaan dan tanggung jawab antargenerasi ini, semakin besar pula sumber daya yang berpindah.
Kekuatan perasaan tersebut berbeda antarmasyarakat. Sebagian budaya memandang pendidikan anak sebagai kewajiban seluruh keluarga besar, sebagian lain menyerahkannya kepada orang tua kandung saja, dan sebagian lagi menganggapnya sebagai urusan negara. Perbedaan inilah yang menentukan berapa banyak uang yang benar-benar sampai ke sektor pendidikan, terlepas dari besar-kecilnya anggaran publik.
Jika dugaan ini benar, maka negara dan keluarga bertindak sebagai substitusi sebagian peran. Negara Nordik memungut pajak tinggi dan membiayai pendidikan lewat anggaran. Asia Timur memungut pajak rendah dan menyerahkan sebagian besar beban kepada keluarga. Data OECD dalam Education at a Glance memperlihatkan pola itu dengan jelas di jenjang pendidikan tinggi, karena Jepang dan Korea Selatan termasuk negara dengan porsi pembiayaan rumah tangga tertinggi di antara anggota OECD. Keduanya sama-sama menghasilkan generasi terdidik, namun dengan jalur pembiayaan yang sangat berbeda.
Tentu saja, substitusi ini hanya berjalan sebagian. Keluarga tidak bisa membangun universitas riset, dan keluarga juga tidak bisa menjamin anak dari rumah tangga termiskin untuk ikut naik kelas. Bray dan Lykins justru menekankan sisi gelap itu, karena bimbingan belajar memperlebar jarak antara anak yang mampu membayar dan anak yang tidak. Ada batas-batas yang jelas, dan batas itu penting untuk diingat dalam merumuskan kebijakan.
Mengapa Ini Bukan Sekadar Cerita Sejarah?
Pola sosial yang menopang Asia Timur sedang berubah secara fundamental. Keluarga mengecil di hampir seluruh kawasan. Angka kelahiran Korea Selatan turun ke kisaran 0,7 anak per perempuan, terendah di dunia, dan Jepang bertahan di sekitar 1,2 menurut data resmi kedua negara. Anak muda pindah ke kota besar dan hidup terpisah dari orang tua. Pada saat yang sama, biaya pendidikan naik lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan.
Perubahan demografi semacam ini pernah bekerja sebagai berkah. David Bloom dan Jeffrey Williamson, dalam The World Bank Economic Review (1998), membuktikan bahwa transisi demografi menyumbang bagian besar dari percepatan pertumbuhan Asia Timur, sebagian karena keluarga yang mengecil dapat memusatkan sumber daya pada lebih sedikit anak. Berkah itu punya titik balik. Ketika jumlah anak terus menyusut sementara jumlah lansia melonjak, kemampuan keluarga untuk membiayai pendidikan ikut tergerus.
Jika kemakmuran jangka panjang suatu bangsa sebagian ditopang oleh solidaritas keluarga, maka perubahan demografi ini bukan lagi sekadar persoalan sosial. Hal ini menyentuh mesin pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Negara yang selama ini menikmati investasi pendidikan gratis dari rumah tangga akan menghadapi bahaya laten yang selama ini tersembunyi di balik keajaiban ekonomi mereka.
Peringatan untuk Indonesia
Indonesia menghadapi persoalan yang sangat serupa. Bimbingan belajar tumbuh pesat di kota-kota besar. Banyak keluarga menekan pengeluaran lain demi membayar biaya sekolah anak. Kakek dan nenek masih sering ikut membiayai cucu. Kita belum tahu secara pasti seberapa besar aliran dana ini, dan sebaliknya, seberapa cepat ia akan menyusut seiring dengan mengecilnya keluarga di masa depan.
Selama ini kita menilai keseriusan sebuah negara terhadap pendidikan hanya dari porsi anggarannya, dan di Indonesia ukuran itu mengambil bentuk mandat konstitusional sebesar 20 persen dari APBN. Ukuran tersebut hanya menangkap satu sisi dari koin. Sisi lainnya bergerak diam-diam di dalam rumah, dan sisi itulah yang menopang sebagian besar Keajaiban Asia Timur.
Perbedaan cara mengukur ini mengubah cara kita membaca banyak hal. Negara dengan anggaran pendidikan tipis belum tentu mengabaikan pendidikan. Negara dengan anggaran besar belum tentu unggul, apabila keluarganya sudah lebih dulu menarik diri. Kesenjangan capaian antarbangsa mungkin lebih banyak ditentukan oleh siapa yang membayar, ketimbang oleh berapa besar yang dibayarkan.
Pembacaan ini membawa peringatan keras bagi Indonesia. Keluarga Indonesia masih menanggung sebagian besar biaya pendidikan anak, tetapi daya tampung dan daya tahan ekonominya sedang menipis. Keluarga mengecil, biaya naik, dan jarak antargenerasi melebar. Jika keluarga menarik diri sebelum negara siap menggantikan, penurunan kualitas modal manusia ini tidak akan terlihat di dokumen anggaran mana pun. Penurunan itu baru akan terbaca sepuluh atau dua puluh tahun kemudian, dalam bentuk generasi yang tumbuh dengan bekal pendidikan yang lebih tipis daripada generasi orang tuanya.
Bangsa yang pernah tumbuh di atas pengorbanan keluarga sesungguhnya sedang memakai modal yang tidak pernah mereka catat dalam neraca pembangunan. Modal seperti itu bisa habis tanpa peringatan, justru karena tidak ada yang pernah menghitungnya dengan saksama.
DAFTAR PUSTAKA
Keajaiban Asia Timur dan pertumbuhan
- World Bank. (1993). The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy. New York: Oxford University Press.
- Haq, K., & Haq, M. (1998). Human Development in South Asia 1998: The Education Challenge. Karachi: Oxford University Press.
- Bloom, D. E., & Williamson, J. G. (1998). “Demographic Transitions and Economic Miracles in Emerging Asia.” The World Bank Economic Review, 12(3), 419–455.
Pendidikan bayangan (shadow education)
- Bray, M. (1999). The Shadow Education System: Private Tutoring and Its Implications for Planners. Paris: UNESCO International Institute for Educational Planning.
- Bray, M., & Lykins, C. (2012). Shadow Education: Private Supplementary Tutoring and Its Implications for Policy Makers in Asia. Mandaluyong City: Asian Development Bank & Comparative Education Research Centre, University of Hong Kong.
- Kim, S., & Lee, J.-H. (2010). “Private Tutoring and Demand for Education in South Korea.” Economic Development and Cultural Change, 58(2), 259–296.
Data pembiayaan dan capaian pendidikan
- OECD. Education at a Glance: OECD Indicators. Paris: OECD Publishing (terbit tahunan).
- OECD. Revenue Statistics dan PISA Results. Paris: OECD Publishing.
- Statistics Korea. (2024). Private Education Expenditures Survey of Elementary, Middle and High School Students in 2023.
- MEXT Jepang. Survey on Children’s Learning Expenses (子供の学習費調査), terbit dua tahunan.
- Ministry of Education, Republic of China (Taiwan). Educational Statistics of the Republic of China, terbit tahunan.
Keluarga, budaya, dan nilai pendidikan
- Sorensen, C. W. (1994). “Success and Education in South Korea.” Comparative Education Review, 38(1), 10–35.
- Seth, M. J. (2002). Education Fever: Society, Politics, and the Pursuit of Schooling in South Korea. Honolulu: University of Hawai’i Press.
Demografi
- United Nations Population Division. (2022). World Population Prospects 2022.
- Statistics Korea, statistik kelahiran tahunan, dan Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang, statistik vital tahunan.
