Jakarta, 20 Maret 2025. Pada 19 Maret 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 7,1% sebelum akhirnya ditutup dengan pelemahan 3,8%. Penurunan drastis ini memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Kejatuhan IHSG ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik, yang diperburuk oleh sentimen negatif dari faktor global dan dinamika politik dalam negeri.
Faktor Utama Penyebab
Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap anjloknya IHSG meliputi, penurunan kepercayaan pasar, ketidakpastian kebijakan dalam risiko fiskal, gejolak politik domestik, dan tekanan ekonomi eksternal. Beberapa faktor ini dapat secara bersama-sama memengaruhi indikator makroekonomi dan finasial di sebuah negara.
Penurunan kepercayaan pasar terlihat jelas dari Indeks Keyakinan Konsumen (BPS, Februari 2025) turun dari 124,3 menjadi 115,8. Ini menunjukkan adanya kekhawatiran masyarakat terhadap prospek ekonomi dalam enam bulan ke depan. Selain itu, Data survei terbaru dari Lembaga Penelitian Ekonomi Nasional FEB UI menunjukkan bahwa indeks kepercayaan bisnis turun 8,5% dalam dua bulan terakhir, mencerminkan ketidakpastian di kalangan investor dan dunia usaha.
Komunikasi yang disampaikan pada tahun 2024 tentang kegiatan program sosial berskala besar yang ditarget senilai Rp504,7 triliun belakangkan menimbulkan kekhawatiran terkait keberlanjutan fiskal pemerintah. Apalagi, saat ini kapasitas fiskal Indonesia sudah terbukti sangat terlihat tertekan dengan adanya isu pemangkasan anggaran dan penundaan pengangkatan ASN selama 1 tahun ke depan. Hal ini meningkatkan sentimen negatif atas ketidakpastian kebijakan dan risiko fiskal pemerintah. Meningkatnya risiko pemerintah ini juga tercermin dari yield Obligasi Pemerintah 10 Tahun yang melonjak dari 6,3% menjadi 7,1%.
Isu reshuffle kabinet dan spekulasi mengenai mundurnya beberapa pejabat ekonomi senior semakin memperburuk sentimen pasar. Hal menjadi aspek non-teknis yang perlu pemerintah sikapi dengan hati-hati, di mana pasar internasional akan sangat memperhatikan pemangku kebijakan di bidang ekonomi yang memiliki reputasi yang baik dalam hal pengelolaan ekonomi negara.
Tekanan ekonomi eksternal, akibat perubahan konstelasi politik internasional juga berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Ketegangan geopolitik turut berdampak terhadap arus modal asing yang keluar dari pasar Indonesia. Dampaknya, data menunjukan, Arus Keluar Modal Asing mencapai Rp9,7 triliun (Bank Indonesia) dalam satu pekan terakhir, menunjukkan investor asing mulai menarik dana mereka dari pasar modal Indonesia.
Rekomendasi Strategis
Untuk mengembalikan stabilitas pasar dan meningkatkan kepercayaan investor, Wiratama Institute merekomendasikan kepada pemerintah langkah-langkah strategis berikut:
- Komunikasi publik yang cepat, transparan dan efektif. Pemerintah perlu segera memberikan pernyataan resmi yang menenangkan pasar, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Bank Indonesia, OJK, dan Kementerian Keuangan harus memperkuat koordinasi dalam menyampaikan pesan yang jelas mengenai stabilitas sistem keuangan. Apresiasi atas langkah Istana dalam mengklarifikasi isu reshuffle Menteri Keuangan Sri Mulyani. Terlepas dari benar atau tidaknya isu tersebut, tindakan pemerintah untuk memberikan kejelasan merupakan langkah yang tepat dan berani. Hal ini dalam khasanah kebijkana publik, dikenal istilah cost of inaction, yaitu konsekuensi negatif jika pemerintah memilih untuk tidak merespons sinyal ancaman krisis. Oleh karena itu, meskipun kebijakan harus dibuat dengan perhitungan yang matang dan kredibel, komunikasi yang cepat dan tegas tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan pasar.
- Menjaga stabilitas ekonomi melalui peran-peran kepemimpinan yang mumpuni di bidang ekonomi. Pemerintah harus memastikan bahwa posisi strategis di sektor ekonomi diisi oleh tokoh-tokoh dengan rekam jejak yang terbukti mampu menangani krisis. Meredam wacana reshuffle kabinet di sektor ekonomi, bisa menjadi salah satu strategi jangka pendek untuk dapat menambah kepercaryaan diri di kalangan investor.
- Mengantisipasi risiko gejolak keuangan dan efek dominonya ke sektor riil. Pemerintah harus sigap memantau ketat sektor perbankan dan keuangan untuk menghindari risiko likuiditas yang dapat merembet ke sektor riil. Memberikan insentif bagi dunia usaha bisa jadi salah satu solusi agar pasar tetap optimis dalam melakukan ekspansi dan perekrutan tenaga kerja.
Sejarah menunjukkan bahwa jika ketidakpastian pasar yang tidak segera ditangani, dapat berdampak luas ke seluruh sektor ekonomi. Krisis moneter 1998 diawali dengan pelemahan kepercayaan investor, yang berujung pada pelarian modal besar-besaran dan akhirnya menjerumuskan ekonomi nasional ke dalam resesi mendalam. Kepercayaan pasar adalah elemen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi. Pemerintah harus bertindak cepat dan tegas dalam menangani dinamika yang terjadi, dengan memastikan kebijakan ekonomi yang kredibel, komunikasi publik yang transparan, serta meredam ketidakpastian politik. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat menghindari dampak negatif lebih lanjut dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Tentang Wiratama Institute
Wiratama Institute adalah lembaga kajian independen yang berfokus pada riset ekonomi, kebijakan publik, dan pembangunan daerah. Kami berkomitmen untuk memberikan analisis berbasis data serta rekomendasi kebijakan yang aplikatif dan inovatif.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Aulia Rachman Alfahmy, M.Ec.Pol
| Direktur Eksekutif Wiratama Institute | Menempuh pendidikan S1 Ilmu Ekonomi di UGM dan Master of Economic Policy, ANU Australia. Memiliki pengalaman 10 tahun pada program dan kebijakan pemerintah (Kawasan Ekonomi Khusus, Revitalisasi Pendidikan SMK Pertanian, Kantor Staf Presiden, Program Kartu Prakerja, dll).
Email : aulia.alfahmy@wiratama-institute.id
HP : 0811-3229-033
[Website: https://www.wiratama-institute.id/ | IG: wiratama.institute]
