Paradoks Spesies yang Lemah
Jika kita mengukur kekuatan hanya dari fisik, Homo sapiens seharusnya sudah lama punah. Otot manusia kalah jauh dibanding simpanse, kulit kita tipis tanpa bulu pelindung, dan bayi manusia lahir dalam kondisi paling tidak berdaya di antara seluruh mamalia. Namun, sejarah mencatat kenyataan yang berbalik: spesies yang tampak rentan ini justru berhasil menguasai puncak rantai makanan dan mendominasi planet Bumi.
Selama bertahun-tahun, banyak narasi populer menjelaskan keberhasilan ini melalui kacamata kepunahan dan keganasan persaingan. Namun, jika kita membedah sejarah peradaban dari biologi evolusi hingga teori ekonomi makro modern, muncul sebuah rahasia yang jauh lebih mendalam. Rahasia itu adalah manusia bertahan dan maju secara eksponensial bukan karena paling buas, melainkan karena memiliki kapasitas unik untuk berkorban secara altruistik demi mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Tentang Gen Egois (Selfish Gene) dan Keramahan Evolusioner
Jika berbicara tentang diskursus peradaban dan teori evolusi, nama Richard Dawkins seringkali disalahpahami. Melalui karyanya yang monumental, The Selfish Gene, Dawkins tidak pernah menyatakan bahwa individu manusia secara pribadi bertindak egois atau jahat (Dawkins, 1976). Egois yang dimaksud oleh Dawkins adalah unit pewarisan itu sendiri, yaitu pada level gen. Pada tingkat molekuler, gen sejatinya berjuang untuk mereplikasi dirinya sendiri. Namun, cara gen mencapai tujuan tersebut sering kali justru dengan memprogram individu untuk berperilaku saling menolong dan berkorban demi kerabatnya (kin selection) atau kelompoknya (Dawkins, 1976).
Perspektif ini menemukan wujudnya yang lebih hangat dalam sejarah perkembangan sosial manusia. Sebagaimana dirangkum oleh Rutger Bregman dalam Humankind: A Hopeful History, Homo sapiens mengalami proses domestikasi mandiri (self-domestication) selama ratusan ribu tahun (Bregman, 2020). Manusia berkembang menjadi Homo puppy, sebuah istilah untuk menggambar spesies yang secara evolusioner menyeleksi sifat ramah, kooperatif, dan empati.
Keunggulan ini diperkuat oleh kemampuan berbahasa dan merangkai fiksi bersama yang dijelaskan oleh Yuval Noah Harari (Harari, 2014). Spesies Neanderthal mungkin memiliki volume otak yang lebih besar dan fisik yang jauh lebih kuat, namun Homo sapiens unggul karena sanggup membangun kepercayaan dan bekerja sama dalam kelompok besar yang terdiri dari ribuan individu asing (Harari, 2014; Bregman, 2020). Manusia adalah mesin pembelajar sosial (ultrasocial learning machines) yang dirancang untuk saling berbagi wawasan.
Pengetahuan: Barang Publik yang Tak Pernah Habis
Di alam liar, mayoritas spesies, jika tidak bisa dikatakan semua, bertarung memperebutkan barang yang bersifat habis (rival goods), seperti daging buruan, sumber air, atau wilayah teritorial. Jika seekor pemangsa mengonsumsi seekor mangsa, peluang pemangsa lain untuk mendapatkan makanan tersebut secara otomatis tertutup. Hal ini akan merangkai menjadi apa yang kita kenal selama ini dengan rantai makanan.
Manusia, di sisi lain, berhasil mendobrak batas biologis ini dengan memindahkan arena evolusi ke tingkat yang lebih tinggi: akumulasi pengetahuan. Berbeda dengan benda fisik, pengetahuan (atau ide), seperti tata bahasa, teknik bercocok tanam, hingga rumus fisika abstrak, merupakan barang publik yang tidak pernah habis dipakai (nonrival goods) (Romer, 1990). Penggunaan sebuah gagasan oleh satu orang tidak akan berkurang sedikitpun saat gagasan itu dimanfaatkan oleh juta orang lainnya.
Manusia menjadi ras yang bukan hanya ingin mencoba dan menembus banyak hal, tapi mampu mengubah kegagalan menjadi satu pengetahuan berharga. Ketika manusia ada di zaman pemburu-peramu, seorang manusia purba dapat tewas karena mengonsumsi buah beracun. Tanpa pengetahuan yang sudah tercipta soal tumbuhan beracun, hal tersebut adalah hal yang lazim terjadi. Namun, peristiwa tragis itu “hanya” mengorbankan modal fisik individu tersebut. Selanjutnya, komunitas manusia dengan bijak mengonversi tragedi itu menjadi pengetahuan kolektif: “jangan makan buah jenis ini.” Pengorbanan individu berubah menjadi stok pengetahuan yang abadi bagi seluruh kelompok. Pengetahuan menjadi satu-satunya aset yang justru bertambah nilainya ketika terus dibagikan.
Arsitektur Pengorbanan Antargenerasi
Bagaimana pengorbanan satu individu dapat berubah menjadi kemajuan bangsa? Dalam kerangka teori pertumbuhan berbasis altruisme, menurut saya proses ini bekerja melalui tiga tahapan yang saling mengikat.
Pertama adalah sumber daya pengorbanan. Ini adalah sesuatu yang secara nyata diserahkan oleh seseorang (seperti waktu, tenaga, kesempatan, atau biaya fisik). Komponen ini bersifat terbatas dan habis terpakai. Ketika orang tua bekerja keras demi membiayai sekolah anaknya, mereka secara sadar mengorbankan konsumsi pribadi mereka saat ini.
Kedua adalah media penyerapan dan konversi. Pengorbanan yang dilakukan tidak akan menghilang begitu saja karena disalurkan melalui lembaga atau saluran sosial yang tepat. Contohnya seperti institusi keluarga, sekolah, komunitas, hingga mekanisme pasar. Sekolah dan pasar berfungsi sebagai pipa penyalur yang mengubah niat baik dan biaya yang dikeluarkan menjadi bentuk pembelajaran yang terstruktur dan “terkapitalisasi”.
Ketiga adalah akumulasi stok pengetahuan Hasil akhir dari proses pengorbanan dan konversi tersebut adalah lahirnya modal manusia (human capital) dan akumulasi gagasan baru. Berbeda dengan biaya awal yang habis terpakai, stok pengetahuan yang tercipta pada tahapan ketiga ini bersifat abadi dan terus menumpuk dengan nilai depresiasi yang mendekati nol dan/atau nilai jangka waktu kadaluarsa yang panjang.
Melalui mekanisme inilah, generasi baru tidak pernah memulai kehidupannya dari garis nol atau dari tingkat subsistensi purba. Setiap generasi berdiri di atas pundak pengorbanan generasi sebelumnya, sehingga titik awal kehidupan manusia terus terangkat naik sepanjang sejarah.
Dari Altruisme ke Kemajuan Ekonomi Eksponensial
Sejarah pemikiran ekonomi telah lama mencoba memecahkan misteri di balik lompatan kesejahteraan manusia. Adam Smith melihat bahwa kunci kemajuan terletak pada spesialisasi dan pembagian kerja (Smith, 1776). Robert Solow dan Trevor Swan menekankan pentingnya penumpukan mesin dan modal fisik (Solow, 1956). Sementara itu, Kenneth Arrow menunjukkan bahwa produktivitas meningkat seiring dengan pengalaman kerja (learning by doing) (Arrow, 1962).
Lompatan teoritis paling revolusioner terjadi ketika ekonom Paul Romer merumuskan Teori Pertumbuhan Endogen (Romer, 1986; Romer, 1990). Romer membuktikan secara matematis bahwa pendorong utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang adalah akumulasi gagasan/ide dan perubahan teknologi yang diciptakan secara sengaja.
Model Romer memperlihatkan bahwa ide memiliki sifat dasar yang unik: ia tidak habis dipakai (nonrival) dan sebagian manfaatnya dapat dilindungi melalui hak paten (partially excludable) (Romer, 1990). Kehadiran barang-barang nonrival ini menghasilkan fenomena increasing returns to scale. Mesin pabrik bisa aus dan mengalami penurunan produktivitas marjinal, namun gagasan atau teknologi baru justru melipatgandakan efisiensi dari seluruh modal fisik dan tenaga kerja yang ada di dunia (Romer, 1986; Romer, 1993).
Meski Romer memodelkan bahwa riset di industri digerakkan oleh insentif laba perusahaan di pasar, dari mana modal manusia (human capital) dan hasrat untuk belajar itu bermula? Jawabannya kembali pada altruisme antargenerasi. Sebelum sebuah teknologi dipatenkan atau dikomersialkan di pasar, ada pengorbanan dasar yang digerakkan oleh keinginan luhur agar generasi mendatang hidup lebih baik.
Panggilan Masa Depan: Pertumbuhan yang Berkelanjutan
Peradaban manusia memang tidak sepi dari ironi peperangan dan perebutan sumber daya alam (Bregman, 2020). Namun, perang pada dasarnya adalah bentuk kejatuhan manusia ke dalam pola lama: persaingan biologis memperebutkan barang fisik yang terbatas. Manusia memang selalu ada dalam episode-episode gelembung kelompok, yang dapat disebabkan karena hambatan fisik seperti lautan, pegunungan hingga non-fisik: aturan, kelembagaan, dan algoritma sosial media). Friksi ini menciptakan dua efek yang seolah saling bertabrakan, di satu sisi adalah keberagaman pengetahuan yang tiba-tiba muncul (emergence), di sisi lain hambatan konvergensi yang pengetahuan yang sejatinya dibutuhkan untuk kemajuan.
Kemajuan manusia, sejatinya selalu bergerak searah dengan perluasan jangkauan altruisme. Relasi yang awalnya hanya terbatas pada kerabat sedarah, empati atau rasa keterikatan manusia secara kolektif dapat meluas ke satu suku, satu bangsa, hingga akhirnya mencakup seluruh ras manusia dan kelestarian ekosistem planet Bumi.
Memahami pertumbuhan ekonomi melalui kacamata altruisme mengingatkan kita bahwa kemajuan peradaban bukan sekadar buah dari egoisme dan persaingan sengit untuk bertahan hidup. Apapun itu, kesejahteraan yang kita nikmati hari ini adalah akumulasi pengorbanan generasi masa lalu, sebuah bukti bahwa manusia adalah spesies yang berjuang, berkorban, dan berhasil bertahan hidup karena kita saling peduli satu sama lain.
Daftar Pustaka
Arrow, K. J. (1962). The Economic Implications of Learning by Doing. The Review of Economic Studies, 29(3), 155–173.
Bregman, R. (2020). Humankind: A Hopeful History. Bloomsbury Publishing.
Dawkins, R. (1976). The Selfish Gene. Oxford University Press.
Harari, Y. N. (2014). Sapiens: A Brief History of Humankind. Harper.
Romer, P. M. (1986). Increasing Returns and Long-Run Growth. Journal of Political Economy, 94(5), 1002–1037.
Romer, P. M. (1990). Endogenous Technological Change. Journal of Political Economy, 98(5, Part 2), S71–S102.
Romer, P. M. (1993). Idea Gaps and Object Gaps in Economic Development. Journal of Monetary Economics, 3
