Mengapa sebagian bangsa berhasil membangun generasi terdidik tanpa negara yang besar, sementara yang lain tidak?
Ekonomi pembangunan biasanya menjawabnya melalui kebijakan: anggaran pendidikan, mutu sekolah, dan kapasitas birokrasi. Seri ini menawarkan jawaban yang menyelami satu lapis lebih dalam, yaitu kesediaan suatu generasi untuk berkorban bagi generasi berikutnya, serta seberapa luas lingkaran orang yang dianggap layak menerima buah pengorbanan itu.
Pertanyaan ini penting bukan semata karena alasan historis. Jika kemakmuran jangka panjang sebagian ditopang oleh solidaritas keluarga, maka perubahan yang tengah berlangsung, seperti keluarga yang mengecil, biaya pendidikan yang meningkat, dan kota yang menggantikan kampung, bukanlah persoalan sosial belaka. Itu adalah persoalan pertumbuhan.
Seri ini menelusuri bagaimana keputusan kecil di tingkat rumah tangga, terutama dalam hal pendidikan, berhimpun menjadi kekuatan yang membentuk arah pembangunan sebuah bangsa.